Hindari Kapau-pau, Karya Kembong Daeng

Oleh: Mahrus Andis

(Sastrawan, Budayawan, Kritikus Sastra)

Diksi “kapau-pau” dalam Bahasa Bugis dan Makassar, artinya: asal bicara. Istilah ini sering pula disebut “pitikana-kanai”. Seseorang yang terbiasa “kapau-pau”, oleh masyarakat Bugis-Makassar, dinilai tidak beretika (baca: temmakkiadeq).

Tipikal seseorang yang “kapau-pau” itu ialah berbicara tanpa pertimbangan baik-buruknya tentang apa yang dia bicarakan. Dampak dari “kapau-pau”, boleh jadi bersifat fitnah atau tuduhan yang membuat orang lain tersinggung dan menyenggol rasa siriq’ (martabat manusia).

Di masa-masa kerawanan suasana politik saat ini, sebaiknya kita menahan diri. Kendalikan hati dari perasaan-perasaan iri, dengki, benci maupun prasangka buruk terhadap perkara-perkara yang belum jelas duduk persoalannya. Pelihara mulut dari kata-kata yang tidak bermanfaat, baik kepada diri sendiri, terlebih lagi kepada orang lain.

Orang Bugis mengatakan: 

   “Ulaweng mammekko’E

    Salaka mette’E”

Makna filosofisnya, yaitu: diam adalah emas jika itu bermanfaat buat orang banyak. Bicara “kapau-pau” atau “pitikana-kanai”, ibarat hanya perunggu yang rendah nilai pasarnya.

Dampak lain dari sikap “kapau-pau” ialah penjara dan dosa. Contoh, memfitnah atau menuduh orang melanggar aturan tanpa dasar pembuktian; adalah dosa menurut syariat agama. Di sisi hukum, itu perbuatan pidana yang ancamannya penjara.

     Karena itu, mungkin bagus kita renungkan makna puisi Makassar yang ditulis oleh Kembong Daeng berikut ini :

PAPPIUKRANGI

Punna niak la kipau

Allei rodong pikkiri

Solla natea

Kana sala kipabattu

Kipabattui kananta

Punna ngerang kabajikang

Na punna kodi

Allei kapuk bawata

Bawata kikatutui

Punna erok abbicara

Ka punna suluk

Takkulleami nibesok

Nibesokki ri  kapanrakang

Punna tena na kitutu

Sabak bawata

Ampanggappangi pajata

Pajata punna ammempo

Ri kadera munjak-munjak

Teaki sayu

Na kitea tattompangi

Makna bebas puisi Makassar ini yaitu: Peringatan, bahwa sebelum berkata-kata maka pikirlah baik-baik ucapan itu agar engkau tidak salah berbicara. Katakanlah maksudmu apabila itu baik dan tutuplah mulutmu jika bicaramu tidak mengandung manfaat (baca: kapau-pau). Sebab, bilamana ucapan sudah terlontar dari mulut maka itu tak mungkin lagi ditarik kembali.

Mudah-mudahan puisi yang mengusung ajaran moral (etika-adeq bicara) di atas mampu menyadarkan diri kita sebagai manusia yang beragama dan berbudaya.***